You are looking at posts that were written in the month of February in the year 2008.
« OlderKetika Tangan dan Kaki Berkata
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata,
” Bang, saya punya sebuah lagu.
Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas.
Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya ? ”
Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa.
Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan.
Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah.
Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata.
Chrisye menginginkan puisi relijius.
Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul.
Sesudah seminggu, tidak ada ide.
Dua minggu begitu juga.
Minggu ketiga inspirasi masih tertutup.
Saya mulai gelisah.
Di ujung minggu keempat tetap buntu.
Saya heran.
Padahal lagu itu cantik jelita.
Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan.
Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu.
Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.
Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi,
A’udzubillahi minasy syaithonirrojim.
“Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum
bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti.
Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah.
Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa !
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut.
Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya.
Bismillah.
Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai.
Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata .
Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,”
Chris, alhamdulillah selesai”. Chrisye sangat gembira.
Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut.
Berikutnya hal tidak biasa terjadilah.
Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.
Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah :
Chrisye - Sebuah Memoar Musikal, 2007 ( halaman 308-309 ), bertutur Chrisye :
Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya.
Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu.
Liriknya benar-benarbenar mencekam dan menggetarkan.
Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan !
Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu.
Baru dua baris, air mata saya membanjir.
Saya coba lagi.
Menangis lagi.
Yanti sampai syok !
Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu.
Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdaya-nya manusia ketika hari akhir tiba.
Sepanjang malam saya gelisah.
Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya.
“Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq.
Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya.
Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.
Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio.
Gagal, dan gagal lagi.
Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila !
Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini.
Dilumpuhkan oleh lagu sendiri !
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu.
Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi.
Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman.
Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya.
Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.
Dan tidak ada take ulang !
Tidak mungkin.
Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi.
Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang !
Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari !
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan.
Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan.
Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.
Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya.
Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luar biasa,
dengan saksi tetesan air matanya.
Bukan main.
Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari
Akhir di hari kiamat kelak.
Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul.
Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut.
Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut.
” Kenapa Bang, kurang ? ”
Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu.
Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja.
Jadi saya tak berhak menerimanya.
Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan ?
Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.
Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi.
Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar.
“Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi.
Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah.
Tuhan Maha Pengampun kan ? ”
Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga.
Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan.
Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.
Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura.
Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat.
Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha,
9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem.
Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga
terbuka lebar baginya.
Amin .
Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya…. sempurna
Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina

SHAYANE WORD
no promises
Hey baby when we are together
Doin things
That we love
Everytime your near
I feel like im in heaven
Feeling high
I dont want to let go girl
I just need you to know girl
I dont wanna run away baby
Your the one i need tonight
No promises
Baby
Now I need to hold you tight
I just wanna die in your arms
Here tonight
Hey baby when we are together
Doin things
That we love
Everytime your near i feel like im in heaven
Feelin high
I dont want to let go girl
I just need you to know girl
I dont wanna run away baby
Your the one i need tonight
No promises
Baby
Now i need to hold you tight
I just wanna die in your arms
I dont want to run away
I want to stay forever
Through time and time
No promises
I dont want to run away
I dont want to be alone
No promises baby
Now i need to hold you tight
Now and forever my love
No promises
I dont want to run away
Youre the one i need tonight
No promises
Baby
Now i need to hold you tight
I just want to die in your arms
here tonight

ROSSA
AYAT AYAT CINTA
Dm A
desir pasir di padang tandus
D/F# Gm
segersang pemikiran hati
E A Dm C A# A
terkisah ku di antara cinta yang rumit
Dm A
bila keyakinanku datang
D/F# Gm
kasih bukan sekadar cinta
E A Dm C
pengorbanan cinta yang agung
A# A
ku pertaruhkan
Reff
F Dm
maafkan bila ku tak sempurna
Gm C
cinta ini tak mungkin ku cegah
A Dm C
ayat-ayat cinta bercerita
A# A Dm
cintaku padamu
F Dm
bila bahagia mulai menyentuh
Gm C
seakan ku bisa hidup lebih lama
A Dm C
namun harus ku tinggalkan cinta
A# A Dm
ketika ku bersujud
Int : Fm C F A#m G C Fm D# C# C Dm
Dm A
bila keyakinanku datang
D/F# Gm
kasih bukan sekadar cinta
E A Dm C
pengorbanan cinta yang agung
A# A
ku pertaruhkan
back to Reff
A# A Dm
ketika ku bersujud

Buat aku Blog itu merupakan ajang silahturahmi ..
Buat aku Blog itu merupakan ajang perkenalan …
Buat aku Blog itu merupakan tulisan istimewa yang dikemas sebagai saling peduli setiap kita membaca tulisan tersebut …
Jadi …
Jangan ragu untuk memulainya …
Alkisah di sebuah perusahaan besar di kawasan
Keprabon, tengah melakukan
beberapa tes wawancara untuk “*tidak*” menerima calon
karyawan baru, tentu
saja salah satu prasyaratnya adalah harus berbahasa
EJD (Ejaan Jawa yg
nDaksempurna)..
Bagi yang tidak memahaminya nggih nyuwun sewu … Boso
Jawi …Meniko
G : Kowe nduwe omah opo ora…..? kamu sudah punya
rumah atau belum?
A : dereng…. belum…..
G : Wah kowe ora iso ketompo nang kene wah..kamu ndak
bisa ketrima di sini
a : Lho kok ngaten……..? lho kok begitu…???
G : Mengko kowe mesthi ngajukne utang nang perusahaan.
Nanti kamu pasti
ngajuin utang ke perusahaan…
a : Ah.. mboten kok, Sak janipun tiyang sepuh kulo
niku sampun sugih.
ah…ndak kok, sebenernya orang tua saya sudah kaya
raya….
G : Yo malah ora ketompo …..ooo malah ndak
ketrima…
a : Lho kok ngaten…..? lho kok begitu….?
G : Mengko kowe kerjo mung nggo hiburan, nongkrang
nongkrong ae. Nanti
kamu kerja cuman buat hiburan, cuman
nongkrang-nongkrok thok… #@*!
G : Kowe nduwe motor opo ora….? Kamu punya motor
ndak…?
b : Mboten. ….tidak punya….
G : Ora ketompo ….Tidak diterima…..
b : Lho kok mboten ketompo ? ….lho kok ndak
ketrima…???
G : Mengko kowe mesthi njaluk bantuan kredit.
…Nanti kamu pasti minta
bantuan kredit…
b : Sak janipun gadhah, ning tasih ten kampung, gampil
mangke kulo beto
ngriki. … Sebenernya punya, cuman masih di kampung,
gampang nanti saya
bawa ke sini…
G : Wah malah ra ketompo…. Wah….malah ndak
diterima…
b : lho kok ngoten ………lho kok begitu..???
G : Tempat parkire wis ra cukup. Tempat parkirnya
udah penuh…..
G : Kowé wis lulus sarjana tenan…..? Bener kamu
udah lulus sarjana?
c : sampun pak…. Sudah, Pak….
G : Ora ketompo, kéné iki golék sing SMA aé, luwih
manutan lan bén
mbayarémurah gak diterima, di sini cari yang cuman
lulusan SMA aja,
lebih nurut dan biar bayarnya murah….
c : Sak janipun kulo tasih badhe skripsi sebenernya
saya masih belum
kelar skripsi…
G : Malah ora ketompo….. lebih ndak diterima…
c : Lho kados pundi to….? lha gimana sih……?
G : Mengko kowé kerjo mung ngetik skripsi, lék wis
lulus mesti golék kerjo
neng perusahaan liyo. Nanti kamu kerja cuman ngetik
skripsi, dan nanti
kalo udah lulus pasti nyari kerja di tempat
laen………
G : Kowé seneng guyon opo ora ? Kamu suka becanda
nggak?
d : Mboten pak, kulo serius nék nyambut gawé. Tidak,
Pak. Saya serius
kalo kerja.
G: Ra ketompo….. Tidak diterima….
d : waa……kok ngoten? waa….kok gitu?
G : Engko konco koncomu lan anak buahmu podho stress.
Nanti temen-temenmu
dan anak buahmu pada stress..
d : Sak jané nggih sekedhik sekedhik seneng guyon.
Sebenernya ya,
sedikit-sedikit suka becanda….
G: Malah ora ketompo. Malah ndak diterima….
d : Lho kok…… lho kok..??
G: Engko kowé mung email emailan sing lucu…….
Nanti kamu cuman
e-mail-emailan yang lucu…
G : Kowé mau mréné numpak opo ? Tadi dateng ke sini
naek apa?
e : Nitih mobil … Naik mobil…
G : Kowé ora ketompo Kamu ndak diterima…
e : Sebabipun ? sebabnya ?
G : Saiki BBM mundhak terus, mengko kowé njaluk
mundhak bayar terus
Sekarang BBM naik terus, nanti kamu minta naek gaji
terus..
e : Wo, kulo wau namung mboncèng, kok …. Wo.. tadi
saya cuman ngikut
temen, kok…
G : Tambah ora ketompo makin ndak diterima…
e : Lho, lha kok … ? Lho, lha kok…?
G : Mengko mung gawéné mboncéng mobil kantor. Ngrusuhi
! Nanti cu man
bisanya ngikut mobil kantor…. Ngerepotin! *&$@!
G : Anakmu akèh opo sithik ? Anakmu banyak apa
sedikit?
f : Kathah pak banyak, Pak…
G : Kowé ora ketompo Kamu ndak diterima..
f : Sebabipun ? Sebabnya..?
G : Nyambut gawemu ora jenjem, mung mikir gawe
uanaaaaaak terus Kamu
kerja ndak konsen, cuman mikirin bikin anak
meluluu…..
f : Lha wong namung anak adopsi, kok. Lha wong cuman
anak adopsi, kok…
G : Tambah ora ketompo Makin ndak diterima….
f : Lho, lha kok … ? Lho, lha kok…?
G : Gawé anak baé aras2en, opo manèh nyambut gawé
Bikin anak aja males,
apalagi kerja…..
G : Kowé wis ngerti gawéyanmu durung ? Kamu dah tahu
kerjaanmu belum?
h : Dèrèng Belum
G : Kowé ora ketompo Kamu ndak diterima
h : Sebabipun ? Sebabnya
G : Arep nyambut gawé kok ora ngerti gaweyané ? Mau
kerja kok ndak tahu
kerjaannya…
h : Oo, nèk damelan niku mpun ngertos kok Ooo…kalo
kerjaan itu sudah
tahu kok…
G : Tambah ora ketompo Makin ndak diterima…
h : Lho, lha kok … ?
G : Kowé rak mung arep keminter, to ? Kamu kan cuman
mau sok tahu..kan???
G : Kowe ngerti kahanan kantor kéné durung Kamu tahu
keadaan kantor ini
belum?
k : Dèrèng Belum
G : Kowé ora ketompo Gak diterima
k : Sebabipun ? Sebabnya..?
G : Arep nyambut gawé kok ora ngerti kantoré ? Mau
kerja kok ndak tahu
kantornya?
k : Wo, sekedhik2 mpun ngertos kok Wah…
sedikit-sedikit sudah tahu
kok…..
G : Tambah ora ketompo Makin ndak diterima
k : Lho, lha kok … ? Lho…???
G : Kowé senengané ngudhal-udhal wewadi kantor, to ?
Kamu senengnya
ngubek-ubek gosip kantor kan?
G : Kowé kerep loro ? Kamu sering sakit?
m : Mboten Tidak
G : Kowé ora ketompo kamu ndak diterima
m : Sebabipun ? Sebabnya?
G : Mesthi kerep mbolos, wong arang2 gering Pasti
bakal sering bolos, lha
wong jarang sakit…
m : Wah, sakjanipun nggih asring Ya..sebenernya ya
sering…
G : Tambah ora ketompo Makin ndak diterima….
m : Lho, lha kok … ? Lho..?
G : Kantor iki ora nompo karyawan pileren di sini
ndak mempekerjakan
karyawan penyakitan….
G : Kowé biso main Internét ? Kamu bisa pake
internet?
n : mBoten Ndak bisa
G : Kowé ora ketompo Kamu ndak diterima
n : Sebabipun ? Sebabnya
G : Perusahaan ora nompo BI (Buta Internet) Di sini
ndak nerima orang BI
n : Wah, sakjanip un nggih saged Wah…sebenernya sih
bisa..
G : Tambah ora ketompo Makin ndak diterima
n : Lho, lha kok … ? Lho..?
G : Mesthi ora bakal nyambut gawé, kakèhan dolanan
Interne t, to?
Ngenték-entekké pulsa ! Pasti bakalan ndak kerja,
kebanyakan pake
internet, kan? ngabisin pulsa!!!!
G : Kowe waras opo ora? Kamu waras apa tidak ?
o : Lha, kulo nggih waras to Pak. Lha, saya ya waras
dong, Pak….
G : Ra ketompo……. Tidak diterima…
o : Kenging nopo …..? Kenapa?
G : Mengko kowe mesthi ora krasan neng kene. Nanti
kamu pasti ndak krasan
di sini….
o : Niku rumiyin Pak, sakmeniko sampun rodo edan.
Itu dulu, Pak….
sekarang sih sudah rada gila…
G : Malah ra ketompo…… Makin ndak diterima…
o : Pripun to niki….? Wah..gimana sih?
G : Mengko aku duwe saingan………. Nanti aku punya
saingan…..
WAKAKAKAKAK……..!!!!!!!!