you can fool all the people some of the time, and some of the people all the time. but u cannot fool all the people all the time
Newer »« Older| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jun | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||
Kisah Sepotong Kue..
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam.
Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba.
Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara,
lalu menemukan tempat untuk duduk.
Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya.
Dalam keasyikannya, ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang yang berada diantara mereka.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.
Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam.
Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya.
Ia semakin kesal sementara menit² berlalu.
Wanita itupun sempat berpikir: “Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia…!”
Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu.
Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu.
Dengan senyum tawa diwajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua.
Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi.
Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir :
“Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih.”
Belum pernah rasanya ia begitu kesal.
Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan.
Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang.
Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri tak tahu terima kasih”.
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya.
Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget.
Disitu ada kantong kuenya, didepan matanya…!!!
Koq milikku ada disini erangnya dengan patah hati.
Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi.
Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih.
Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih.
Dan dialah pencuri kue itu…!!!
Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti ini sering terjadi…
Kita sering berprasangka dan melihat orang lain
dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.
detik demi detik tlah berjalan …
menit demi menit tlah berlalu …
hari demi hari tlah usai …
taun demi tau tlah pergi …
tiba saat nya ku berpikir …
kemana jiwa ini akan pergi …
membawa semua kebahagian yang tak pernah tau arah …
dimana hati ku akan ku simpan …
untuk cinta yang membuat ku bahagia …
untuk cinta yang membuat ku bersedih …
untuk cinta yang tidak pernah aku bayangkan sebelum nya …
ambilah nyawaku jika ini membuat cinta ku abadi untuk selamanya …
salam sayang untuk seseorang selalu dan selamanya …
simpan dalam hati yang paling terdalam untuk dia yang aku cinta …
Bread For Friends & A Cup of Tea # 103
Mengapa bukan SAYA
Editor : Lintong Simaremare
“Hidup itu harus pintar-pintar”. Demikian nasihat yang sering dikatakan orang tua kita saat melepas anaknya yang akan memasuki dunia ‘nyata’. Nasihat itu sering ditafsirkan macam-macam oleh kita-kita ini jika menyangkut nasib atau sesuatu yang bisa kita peroleh atau yang ingin kita dapatkan.
Satu hal yang paling sering kita lihat adalah banyaknya orang-orang yang cenderung berlari - berlari ke rasa aman yang diciptakan program kesejahteraan dari pemerintah atau perusahaan, rasa aman dari teman, rasa aman dari penopang sosial. Orang-orang semakin banyak yang bersembunyi dari peran nyata, dan lebih senang menonton film dan membaca buku yang menggambarkan pahlawan yang meraih prestasi fiktif dalam kehidupan. Senang dengan cerita perjuangan bisnis orang lain hingga meraih sukses dan manikmati plisiran ke seluruh negeri atau yang menikmati saat terbenanmya matahari dari Fiji.
Mereka puas bila orang lain yang melakukan perjuangan dan hal-hal kehidupan yang sebenarnya mereka lakukan, tapi mereka tidak mencobanya. Satu pertanyaan yang mungkin jarang kita tanyakan pada diri sendiri adalah ,”Mengapa bukan SAYA ?”. Coba kita bayangkan jika pertanyaan sederhana itu sering kita tanyakan pada diri kita, apa kira-kira yang terjadi? Saya pikir Anda akan sepakat jika saya menjawab bahwa akan semakin banyak orang yang mempunyai pilihan yang berbeda dalam menjalani hidup, dan tentunya akan semakin banyak yang semangat berprestasi, akan semakin banyak orang yang meraih sasaran yang ditetapkannya sendiri.
Memberi makna pada hidup berarti memberi kualitas pada rentetan hidup dengan mengukir prestasi demi prestasi. Kebahagiaan berbarengan dengan prestasi, makanya hidup bisa bahagia sepanjang waktu. Nilai hidup bukan terletak pada panjangnya hari-hari, namun penggunaan kita atas hari-hari itu. Seseorang bisa saja berumur panjang, tapi hanya sedikit memeproleh nilai hidup. Tidak berlebihan jika ada pernyataan yang mengatakan, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”.
A cup of TeaÒ :
Gantilah kata ‘SAYA’ menjadi nama Anda pada kalimat dibawah ini.
“Anda bisa menciptakan prestasi setiap saat !”.@Lint
CHAYANNE _ YO TE AMO
aku suka banget lagu ini …
pertama kali aku denger lagu ini …
zaman2 nya film asia ..
tau dwonx ..
METEOR GARDEN 2 …
En palabras simples y comunes yo te extraño
En lenguaje terrenal mi vida eres tu
En total simplicidad seria yo te amo
Y en un trozo de poesia tu seras mi luz, mi bien
El espacio donde me alimento de tu piel que es bondad
La fuerza que me mueve dentro para recomenzar
Y en tu cuerpo encontrar la paz
Si la vida me permite a lado tuyo
Creceran mis ilusiones no lo dudo
Y si la vida la perdiera un instante
Que me llene de ti
Para amar despues de amarte…vida
No tengas miedos ni dudas
(choro) este amor es demasiado bueno
Que tu seras mi mujer
(choro) yo te pertenezco todo entero
Mira mi pecho, lo dejo abierto
Para que vivas en el
Para tu tranquilidad me tienes en tus manos
Para mi debilidad la única eres tu
Al final tan solo se que siempre te he esperado
Y que llegas a mi vida
Y tu me das la luz del bien
Ese mundo donde tus palabras hacen su voluntad
La magia de este sentimiento que es tan fuerte y total
Y tus ojos que son mi paz
Si la vida me permite a lado tuyo
Creceran mis ilusiones no lo dudo
Si la vida la perdiera en un instante
Que me llene de ti para amar despues de amarte…vida
No tengas miedos ni dudas
(choro) este amor es demasiado bueno
Que tu seras mi mujer
(choro) yo te pertenezco todo entero
Mira mi pecho lo dejo abierto
Para que vivas en el }Bis
Sebelum Kamu Menceraikanku, Gendonglah Aku !
Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti
didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku
untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah
kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.
Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening.
Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha
untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih
diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami
berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.
Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia.
Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka.
Dew hadir dalam kehidupanku.
Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang
sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya.
Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya. Dew berkata ,
“Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.
” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata,
“Pria sepertimu,begitusuk ses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.”
Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu- ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku.
Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berka ta,
“Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor
” Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.
Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun
kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk
membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan,
ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang baik.
Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV.
Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku
akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.
Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan?
” Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara.
Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh dari nya.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.
Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan
berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia.
Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada
bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.
Sekali lagi, Dew berkata padaku,” He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu
kitaakan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh
ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,
” Ada sesuatu yang harus kukatakan” Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara.
Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa.
Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. “Aku ingin bercerai “, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.
Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut, “kenapa?” “Aku serius.
” Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah.
Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki- laki!”.
Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis.
Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami.
Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.
Dengan perasaan yang amat bersalah,
Aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku.
Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian..
Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku.
Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku,
dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku.
Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.
Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu.
Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis.
Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya.
Ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,
dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.
Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi
dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.
Ia menyerahkan persyar atan tersebut dan bertanya,” He Ning, apakah kamu masih
ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?”
Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.
Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya,
“Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita.
Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.”
Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.
Aku memberitahukan Dew soal syarat- syarat perceraian dari istriku.
Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,
” ia mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing.
Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah.
Anak kami menepuk punggung kami,”Wah, papa membopong mama, mesra sekali” Kata-katanya membuatku merasa sakit..
Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku.
Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,” Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita.
” Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.
Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,
kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya.
Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini.
Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar, hati- hati kalau kamu lewat sana .”
Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri
dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar.
Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti,
dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll.
Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.
Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat.
Aku berkata padanya,”Kelihatann ya tidaklah sulit membopongmu sekarang” Ia sedang mencoba pakaiannya,
aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa
menemukan yang cocok. Lalu ia melihat, “Semua pakaianku kebesaran”.
Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bias membopongnya dengan ringan bukan
disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.
Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit Tanpa sadar ku sentuh kepalanya.
Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa,sudah waktunya membopong mama keluar”
Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting.
Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat.
Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir.
Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras.
Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami.
Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatk u sedih.
Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat.
Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata,
“Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”.
Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.
Aku melompat turun dari mobil tanpa Sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikirankuberubah.
Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai.
Aku serius”. Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam”.
Kutepiskan tanganya dari dahiku “Maaf, Dew,Aku Cuma bisa bilang maaf padamu,
Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi .Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku,
ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu” Dew tiba-tiba seperti tersadar.
Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.
Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga
kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?
Aku tersenyum, dan menulis ” Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua…”